Kisah Lucu Abu Nawas : Membalas Perbuatan Raja

Membalas Perbuatan Raja.  Abu Nawas hanya tertunduk sedih mendengarkan penuturan istrinya. Tadi pagi beberapa pekerja kerajaan atas titah langsung Baginda Raja membongkar rumah dan terus menggali tanpa bisa dicegah. Kata mereka tadi malam Baginda bermimpi bahwa di bawah rumah Abu Nawas terpendam emas dan permata yang tak ternilai harganya. Tetapi setelah mereka terus menggali ternyata emas dan permata itu tidak ditemukan. Dan Baginda juga tidak meminta maaf kepada Abu Nawas. Apalagi mengganti kerugian. Inilah yang membuat Abu Nawas memendam dendam.

Lama Abu Nawas memeras otak, namun belum juga ia menemukan muslihat untuk membalas Baginda raja. Makanan yang dihidangkan istrinya tidak dimakan karena nafsu makannya lenyap. Malam pun tiba, namun Abu Nawas tidak beranjak. Keesokan hari Abu Nawas melihat lalat-lalat mulai menyerbu makanan Abu Nawas yang sudah basi. Tiba-tiba ia tertawa riang.

"Tolong ambilkan kain penutup untuk makananku dan sebatang besi." Abu Nawas berkata pada istrinya. 
"Untuk apa ?" tanya istrinya heran.
"Membalas Baginda Raja." kata Abu Nawas singkat. Dengan muka berseri-seri Abu Nawas berangkat menuju istana. Setibanya di istana Abu Nawas membungkuk hormat dan berkata,
"Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukan perlakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba tanpa ijin dari hamba dan berani memakan makanan hamba."

"Siapakah tamu-tamu yang tak diundang itu wahai Abu Nawas?" sergap Baginda kasar.
"Lalat-lalat ini, Tuanku." kata Abu Nawas sambil membuka penutup piringnya. "Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda junjungan hamba, hamba mengadukan perlakuan yang tidak adil ini."
"Lalu keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku ?"
"Hamba hanya menginginkan ijin tertulis dari Baginda sendiri agar hamba bisa dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu." 

Baginda raja tidak bisa mengelakkan diri menolak permintaan Abu Nawas karena pada saat itu para menteri sedang berkumpul di istana. Maka dengan terpaksa Baginda membuat surat ijin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu dimanapun mereka hinggap.

Tanpa menunggu perintah Abu Nawas mulai mengusir lalat-lalat di piringnya hingga mereka terbang dan hinggap di sana sini. Dengan tongkat besi yang sudah sejak tadi di bawanya dari rumah. Abu Nawas mulai mengejar dan memukuli lalat-lalat itu. Ada yang hinggap di kaca, Abu Nawas dengan leluasa memukul kaca itu hingga hancur, kemudian vas bunga yang indah, kemudian giliran patung hias sehingga sebagian dari istana dan perabotannya remuk diterjang tongkat besi Abu Nawas. Bahkan Abu Nawas tidak merasa malu memukul lalat yang kebetulan hinggap di tempayan Baginda Raja.

Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyadari kekeliruan yang telah dilakukan terhadap Abu Nawas dan keluarganya. Dan setelah merasa puas, Abu Nawas mohon diri. Barang-barang kesayangan Baginda banyak yang hancur. Bukan hanya itu saja, Baginda juga menanggung rasa malu. Kini ia sadar betapa kelirunya berbuat semena-mena terhadap Abu Nawas. Abu Nawas yang tampak lucu dan sering menyenangkan orang itu ternyata bisa berubah menjadi garang dan ganas serta mampu membalas dendam terhadap orang yang mengusiknya.

Abu Nawas pulang dengan perasaan lega. Istrinya pasti sedang menunggu di rumah untuk mendengarkan cerita apa yang dibawa dari istana.

Baca juga dongeng lucu si Kabayan

Kisah Lucu Abu Nawas : Mendemo Tuan Kadi

Abu Nawas Mendemo Tuan Kadi.  Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya, ada dua orang tamu datang ke rumahnya. Yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.

Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si pemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab mereka.

"Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian datang kepadaku pada malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak, martil serta batu."

Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu Nawas. Dan mereka yakin gurunya selalu membuat kejutan dan berada di pihak yang benar.

Pada malam harinya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.

Berkata Abu Nawas, "Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak rumah Tuan Kadi yang baru jadi."
"Hah? Merusak rumah Tuan Kadi?" gumam semua muridnya keheranan.
"Ya! Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!" kata Abu Nawas menghapus keraguan murid-muridnya. "Barangsiapa yang mencegahmu, jangan kau perdulikan, terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Barangsiapa yang hendak melempar kalian, maka pukullah mereka dan lemparilah mereka dengan batu."

Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak menuju rumah Tuan Kadi. Laksana demonstran mereka berteriak-teriak dan menghancurkan rumah Tuan Kadi.

Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakuan mereka. Lebih-lebih ketika tanpa basa-basi lagi mereka langsung merusak rumah Tuan Kadi. Orang-orang kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun karena jumlah murid-murid Abu Nawas terlalu banyak, maka orang-orang kampung tak mampu mencegah.

Melihat banyak orang yang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar dan bertanya, "Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?" Murid-murid itu menjawab, "Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami." Habis menjawab begitu mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan rumah Tuan Kadi sehingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.

Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak ada orang yang berani membelanya, "Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi aku akan melaporkannya kepada Baginda Raja."

Benar, esok harinya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu Nawas dipanggil menghadap Baginda Raja.

Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya, "Hai Abu Nawas apa sebabnya kau merusak rumah Kadi itu?"

Abu Nawas menjawab, "Wahai Tuanku, sebabnya ialah pada suatu malam hamba bermimpi, bahwasanya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya. Sebab rumah itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih bagus lagi. Ya, karena mimpi itu maka hamba merusak rumah Tuan Kadi."

Baginda berkata, "Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuah perintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu?"

Dengan tenang Abu Nawas menjawab, "Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi yang baru ini Tuanku."

Mendengar perkataan Abu Nawas seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. Ia terdiam seribu bahasa. "Hai Kadi benarkah kau mempunyai hukum seperti itu ?"  tanya Baginda.

Tapi Tuan Kadi tiada menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran karena takut.

"Abu Nawas, jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti ini!" perintah Baginda.

"Baiklah......" Abu Nawas tetap tenang. "Baginda..... beberapa hari lalu ada seorang pemuda Mesir datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagang sambil membawa hartanya yang banyak sekali. Pada suatu malam ia bermimpi kawin dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak. Ini hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsung mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemuda Mesir itu tak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah disinilah terlihat arogansi Tuan Kadi, ia ternyata merampas semua harta benda milik pemuda Mesir hingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan akhirnya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa."

Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percaya seratus persen, maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda Mesir. Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di depan istana, jadi mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu ke hadapan Baginda.

Berkata Baginda Raja, "Hai anak Mesir, ceritakanlah hal ihwal dirimu sejak engkau datang ke negeri ini."
Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkan pemuda itu membawa saksi yaitu Pak Tua pemilik tempat kost dia menginap.

"Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat Kadi yang bejad moralnya."

Baginda sangat murka. Kadi yang baru itu dipecat dan seluruh harta bendanya dirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir.

Setelah perkara selesai, kembalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawas pulang ke rumahnya. Pemuda Mesir itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas. Berkata Abu Nawas, "Janganlah engkau memberikan barang sesuatupun kepadaku. Aku tidak akan menerimanya sedikitpun juga."

Pemuda Mesir itu benar-benar mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke negeri Mesir ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada penduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.


Baca juga kumpulan dongeng Kabayan

Kabayan Pelesir ka Amerika

Kabayan jeung Mitoha na pelesir ka Amerika. Diditu maranehna jalan jalan ka musieum.

Barang tepi ka musieum, kudu naek lift. Ngan si Kabayan jeung mitohana asa-asa rek asup teh.

Mitoha  : "Montong asup kadinya siah kabayan, open gede deuleu eta teh. Tuh pan aya tulisanna OPEN."

Bari ngomong kitu teh mitohana bari merhatikeun bule asup kana lift.

Kabayan : "Maenya abah, pan ieu mah lain rumah makan piraku bet aya open sagala"

Teu kungsi lila tina lift nu tadi asup bule nu kulitna bodas teh kaluar negro nu warna kulitna hideung kacida.

Mitoha  : "Tuh nya ceuk abah ge open, tuh nu tadi kaluar nepi ka tutung kitu".

Tungtungna Kabayan jeung mitohana mapay tangga da sieun tutung. Nepi ka musieum keur aya pameran Mesir kuno. Rupa rupa barang bersejarah jaman Mesir kuno dipamerkeun di eta musieum.

Sajongjonan Kabayan merhatikeun Mumi mesir kuno, pas di handapeun peti batu na aya tulisan 1227BC.

Kabayan : "Abah...aya angka di batu ieu 21527BC maksudna naon nya, Abah?"

Mitoha : "Ah sia mah dasar kampung, katingali kurang gaul, teu gableg ka nyaho... Eta teh PIN BlackBerry na Firaun...!"


kumpulan dongeng lucu si Kabayan : Kabayan ngala tutut

Kabayan ngala tutut

Cék Ninina, “Kabayan ulah héés beurang-beurang teuing, euweuh pisan gawé sia mah, ngala-ngala tutut atuh da ari nyatu mah kudu jeung lauk.”

Cék Si Kabayan, “Ka mana ngalana?”

Cék ninina, “Ka ditu ka sawah ranca, nu loba mah sok di sawah nu meunang ngagaru geura.


Léos Si Kabayan leumpang ka sawah nu meunang ngagaru. Di dinya katémbong tututna loba, lantaran caina hérang, jadi katémbong kabéh. Tututna pating golétak. Tapi barang diteges-teges ku Si Kabayan katémbong kalangkang langit dina cai. Manéhna ngarasa lewang neuleu sawah sakitu jerona. Padahal mah teu aya sajeungkal-jeungkal acan, siga jero sotéh kalangkang langit. Cék Si Kabayan dina jero pikirna, “Ambu-ambu, ieu sawah jero kabina-bina caina. Kumaha dialana éta tutut téh? Lamun nepi ka teu beunang, aing éra teuing ku Nini. Tapi éta tutut téh sok dialaan ku jalma. Ah, dék dileugeutan baé ku aing.”


Geus kitu mah Si Kabayan léos ngala leugeut. Barang geus meunang, dibeulitkeun kana nyéré, dijejeran ku awi panjang, sabab pikirna dék ti kajauhan baé ngala tutuna moal deukeut-deukeut sieun tikecebur. Si Kabayan ngadekul, ngaleugeutan tutut méh sapoé jeput, tapi teu aya beubeunanganana, ngan ukur hiji dua baé. Kitu ogé lain beunang ku leugeut, beunang sotéh lantaran ku kabeneran baé. Tutut keur calangap, talapokna katapelan ku leugeut tuluy nyakop jadi beunang. Lamun teu kitu mah luput moal beubeunangan pisan, sabab ari di jero cai mah éta leugeut téh teu daékeun napel, komo deui tutut mah da aya leuleueuran. Di imah ku ninina didagoan, geus ngala salam, séréh jeung konéng keur ngasakan tutut. Lantaran ambleng baé, tuluy disusul ku ninina ka sawah. Kasampak Si Kabayan keur ngaleugeutan tutut.


Cék ninina, “Na Kabayan, ngala tutut dileugeutan?”

Cék Si Kabayan, “Kumaha da sieun tikecebur, deuleu tuh sakitu jerona nepi ka katémbong langit.”

Ninina keuheuleun. Si Kabayan disuntrungkeun brus ancrub ka sawah.

Cék Si Kabayan, “Heheh géhél da déét.”


kumpulan dongeng lucu si Kabayan : Kabayan ngala Nangka


Kabayan ngala nangka

Si Kabayan dititah ngala nangka ku mitohana. “Nu kolot ngala nangka téh, Kabayan!” Ceuk mitohana. Kencling Si Kabayan ngincig ka kebon, nyorén bedog rék ngala nangka. Barang nepi ka kebon, Si Kabayan alak-ilik kana tangkal nangka. Manggih nu geus kolot hiji tur gedé pisan. Tuluy waé diala. Barang dipanggul kacida beuratna.


“Wah, moal kaduga yeuh mawana, “ pikir Si Kabayan téh. Tuluy wé nangka téh ku Si Kabayan dipalidkeun ka walungan. Jung waé balik ti heula, da geus kolot ieuh!” ceuk Si Kabayan téh nyarita ka nangka.


Barang tepi ka imah, Si Kabayan ditanya ku mitohana.

“Kabayan, meunang ngala nangka téh?”

“Komo wé meunang mah, nya gedé nya kolot,” témbal Si Kabayan.

“Mana atuh ayeuna nangkana?” Mitohana nanya.

“Har, naha can datang kitu? Apan tadi téh dipalidkeun dititah balik ti heula, ceuk Si Kabayan téh.

“Ari manéh, na mana bodo-bodo teuing. Moal enya nangka bisa balik sorangan!” Mitoha Si Kabayan keuheuleun pisan.

“Wah nu bodo mah nangkana, kolot-kolot teu nyaho jalan balik,” ceuk Si Kabayan bari ngaléos.

kumpulan dongeng lucu si Kabayan : Kabayan dan Abu Nawas membahas matematika

Kabayan dan Abu Nawas Membahas Matematika

Di suatu tempat Kabayan bertemu Abu Nawas untuk membahas masalah matematika.

Kabayan : "Abah Abu, sebenarnya saya ini bukan ahli matematika nih. Cuma, saya diundang berseminar matematika di sini. Menurut Abah Abu, saya harus bagaimana nih?"

Abu Nawas : "Kang Kabayan, memangnya materi apa yang akan disampaikan pada seminar kali ini?"

Kabayan : "Sebenarnya sih sederhana saja, panitia meminta saya menyampaikan tentang persamaan. Cuma mereka minta agar persamaan itu tak dibahas secara matematis, tapi dengan cara-cara yang sederhana (kalau bisa sih lucu) dan mudah dipahami oleh orang-orang biasa. Makanya saya ikut seminar ini. Kalau diminta membahas secara matematis sih, wah saya tak sanggup deh...."

Abu Nawas : "Oh begitu ya...? Coba nih saya tanya, kira-kira Kang Kabayan menyelesaikan persamaan (8-x)/3 + 2 = 4 ini bagaimana?"

Kabayan : "Secara matematis yang tepat sih, saya tak bisa menjelaskannya. Mungkin saya akan ditertawakan oleh para matematikawan-matematikawan itu. Saya bisanya dengan kata-kata saja..., dengan cara saya, seperti yang diminta panitia."

Abu Nawas: "Memangnya bagaimana? Saya juga tak mengerti bila diminta menjelaskan secara matematis. Soal tadi itu juga saya dapatkan dari kawan saya yang bertanya ke saya, dan saya tak bisa menjelaskannya secara matematis. Coba deh, menurutmu bagaimana cara penyelesaian persamaan tersebut?"

Kabayan : "Ah, Abah Abu merendah saja...."

Abu Nawas: "Serius! Saya benar-benar tidak bisa." (kali ini tampak wajah Abu Nawas terlihat serius)

Kabayan : "Baiklah kalau begitu. Begini menurut saya, persamaan itu saya ibaratkan sebuah timbangan dengan "dua tangan". Tanda sama dengan berarti seimbang." Abu Nawas menyimak Kabayan dengan sungguh-sungguh.

Kabayan: "Berarti, untuk menyelesaikan persamaan tersebut ((8-x)/3 + 2 = 4), mudahnya begini saja. Saya ibaratkan 4 itu empat buah semangka berukuran sama yang terletak di sebelah kanan timbangan. Dan di sebelah kiri, (8-x)/3 + 2 itu berarti banyaknya semangka yang saya sendiri belum tahu berapa banyaknya ditambah dua semangka." (Yang dimaksud Kabayan dengan banyaknya semangka yang ia belum tahu berapa banyaknya adalah (8-x)/3 ).

Abu Nawas: "Ya... ya ..., terus?"

Kabayan: "Nah, karena di sebelah kiri sudah jelas ada 2 semangka dan sebelah kanan ada 4 semangka, berarti bagian yang saya belum tahu ((8-x)/3 ) itu sebenarnya berjumlah 2 buah semangka. Jadinya, saya bisa tulis (8-x)/3 = 2." Kabayan tampak terdiam beberapa saat, memperhatikan persamaan baru ((8-x)/3 = 2) yang diperolehnya. Kemudian, segera setelah itu ia melanjutkan penjelasannya....

Kabayan: "(8-x)/3 = 2, artinya banyaknya suatu semangka (8-x) bila dibagi 3 sama saja dengan 2. Berarti banyaknya semangka tersebut pasti adalah 6. Makanya berarti 8-x = 6." Belum sempat melanjutkan penjelasannya, Abu Nawas segera berseru dan mengatakan begini.

Abu Nawas: "Saya mengerti, saya mengerti.... Jadinya, karena 8-x = 6, artinya delapan semangka dikurangi berapa semangka (nilai x) hasilnya 6 kan? Pasti banyaknya semangka itu (di persamaan ini diberi symbol x) adalah 2, benar kan?"

Kabayan: "Ya benar.... Tuh kan, Abah Abu cuma merendah saja...."

Abu Nawas: "Ah *engga* juga, kamu benar-benar bagus penjelasannya. Makanya saya gampang mengerti."


Abu Nawas tertawa gembira, karena ia mengerti penjelasan Kabayan. Kemudian, ia pun bercerita pada Kabayan bahwa ia diundang ke seminar ini pun bukan karena ia mengerti matematika. Tapi, ia diminta panitia untuk menjelaskan sastra (bahasa) terkait dengan matematika. Karena katanya, Matematika itu adalah bahasa juga, tapi berupa bahasa symbol.


Abu Nawas: "Sekarang saya jadi mengerti persamaan itu apa. Ini memudahkan saya untuk bercerita tentang matematika sebagai bahasa symbol nanti siang", begitu kata Abu Nawas dengan nada optimis.

Kabayan: "Sekarang, gantian saya yang mau bertanya nih sama Abah Abu...."

Abu Nawas: "Ah kang Kabayan, jangan nanya yang susah-susah ya...?"

Kabayan: "Justru ini pertanyaan susah yang belum bisa saya jawab. Begini ceritanya, seminggu yang lalu presiden memberi potongan hukuman bagi para tahanan. Bahwa semua tahanan diberi potongan berupa setengah dari masa hukuman yang harus dijalani tiap tahanan tersebut. Untuk tahanan yang dihukum 10 tahun, karena dipotong setengahnya, jadinya ia cuma tinggal menjalani hukuman 5 tahun saja. Bila seorang tahanan dihukum 20 tahun, karena dipotong setengahnya jadinya tinggal 10 tahun saja. Begitu seterusnya. Ketetapan ini sudah diputuskan oleh presiden dan tak bisa diubah!"

Abu Nawas: "Terus, masalahnya apa?"

Kabayan: "Ini sebenarnya masalah matematika juga, cuma matematikawan-matematikawan di negeri saya tak ada yang sanggup menjawabnya. Masalahnya begini, karena ada tahanan yang dihukum seumur hidup (sampai sang tahanan tersebut meninggal), artinya kan harus ditentukan berapa lama sisanya ia akan dihukum? Padahal tak ada yang tahu kapan seseorang itu meninggal. Tak ada yang tahu berapa lama umur seseorang itu. Masalah ini jadi heboh di seluruh Indonesia dikarenakan presiden dengan ceroboh menetapkan kebijakannya tersebut. Belum ada yang bisa memecahkannya. Paranormal seperti dukun, tukang ramal nasib, tukang tenung, mentalist (semisal Dedi Corbuzier) dan sebangsanya itu tak bisa memecahkannya. Cendekiawan yang terkenal cerdik pun semisal Gus Dur dibikin repot karenanya (padahal Gus Dur terkenal dengan perkataannya, "Gitu aja kok repot." Tapi, kali ini benar-benar ia repot dibuatnya). Para matematikawan pun yang pintar-pintar itu angkat tangan mencari solusinya. Dan ini menjadi isu nasional. Jadi, bagaimana Abah Abu menyelesaikannya?"

Abu Nawas: "Ooooh begitu ya? Berat juga masalahnya kalau begitu. Tapi, beri saya waktu sepuluh menit saja, saya habiskan dulu ya makanan saya...." Kabayan pun mempersilakan Abu Nawas menghabiskan makanannya. Sambil makan, tampak Abu Nawas berfikir dengan serius. Dan, segera setelah habis makanannya, tampak cerialah wajah Abu Nawas, pertanda ia punya pemecahan masalah tersebut.

Abu Nawas: "Hahaa.... Menurut saya begini saja, masalah ini bisa diselesaikan dengan konsep persamaan yang telah kamu jelaskan tadi...."

Kabayan: "Oh ya...? Bagaimana?"

Abu Nawas: "Karena persamaan itu menurutmu berarti seimbang, atau keseimbangan, masalah pemotongan masa hukuman tersebut ya mudah saja diselesaikan. Begini caranya, supaya orang yang dihukum seumur hidup itu dapat potongan hukuman setengah masa hidupnya, cara menghukumnya begini saja. Sehari ia ditahan, sehari ia dibebaskan, begitu seterusnya hingga ia meninggal. Seimbang bukan, seperti persamaan kan?"

Kabayan: "Subhanallah, Alhamdulillah... benar-benar penyelesaian yang sangat cantik, dan sesuai konsep persamaan. Luar biasa, luuuuuuuuuuuuar biasa! Saya bersyukur bisa bertemu Abah Abu di tempat ini. Terimakasih ya Abah Abu...."



Itulah tadi beberapa cerita si Kabayan yang saya bagikan untuk kalian semua, dan masih banyak lagi cerita-cerita Kabayan lainnya. Lain waktu saya akan kasih lagi, semoga mengobat rindu kalian akan cerita Kabayan dan menghibur.


Baca juga: status fb lucu sunda campuran



kumpulan dongeng lucu si Kabayan : Kabayan Dicukur

Kabayan dicukur

Si Kabayan teh kandulan pisan. Ari kandulan teh jahe alias jago he-es (beuki sare). Teu kaop nyangkere atawa nyarande sok ker wae kerek.


Sakali mangsa si Kabayan teh dicukur. Dicukurna handapeun tangkal gede di sisi jalan Supratman. Ari tukang cukur teh ruruntuk dalang. Tadina hayang jadi dalang tapi teu kataekan. Kalah jadi tukang cukur. Teu wudu payu nyukurna teh da eta ari nyukur sok bari ngadalang.


Si Kabayan tibarang gek diuk dina korsi panyukuran geus lelenggutan wae nundutan. Saperti biasa tukang cukur teh ari ceg kana gunting jeung sisir tuluy wae ngabuih… Ngadalang. Pokna teh, “Tah kacaturkeun di nagara Alengka, rajana jenengan Dasamuka. Ari dasa hartina sapuluh. Ari muka eta hartosna beungeut atanapi raray… “


Si Kabayan nu keur ngalenggut ngarasa kaganggu kunu keur ngadalang, bari heuay si Kabayan nyarita, “Pondokeun wae Mang…”


Trek-trek tukang cukur teh ngaguntingan buuk si kabayan bari pok deui,  ”Ari geus kitu… eta Dasamuka teh bogoh ka Dewi Sinta, geureuhna Sri Rama… ”


“Pondokeun wae Mang…”ceuk si Kabayan nyaritana selang seling antara inget jeung heunteu bakating ku tunduh.


Teu lila reup deui sare. Lilir sakeudeung, tukang cukur teh keur ngadongeng keneh, ”Urang tunda Dewi Sinta nu keur di Alengka, sabab dipaling ku Rahwana…. caturkeun sri Rama….” si Kabayan asa kaganggu sarena terus nyarita bari lulungu, “Pondokeun Mang….”


Terus reup deui peureum. Trek..trek tukang cukur ngaguntingan buuk si Kabayan bari nuluykeun ngadongengna. Ari tiap si kabayan lilir, tukang cukur teh keur ngabuih keneh wae ngadalang. Tapi ari leungeunna mah tetep teu eureun-eureun ngaguntingan buuk si Kabayan. Si Kabayan keuheuleun pisan sabab sarena kaganggu ku sora tukang cukur, nu sakapeung sok ngagerem nurutan sora buta atawa ngajerit nurutan sora Dewi Sinta basa dipaling ku Rahwana. Antukna si Kabayan ngambek ka tukang cukur bari nyarita ”Ceuk aing ge pondokeun…pondokeun…” tukang cukur nembalan “Dipondokeun kumaha ieu geus lenang kieu..” ari ret si Kabayan kana eunteung enya wae sirahna geus gundul teu salembar-lembar acan, puguh wae si Kabayan teh ambek, “Nu dipondokeun teh dongeng maneh lain lain buuk aing…” si Kabayan morongos.


Tukang cukur nembalan bari nyentak, “Bongan sorangan, naha atuh sare wae batur digawe teh, lain nuhun diembohan ku dongeng teh…”


Ngan hing wae si Kabayan teh ceurik bakating ku handeueuleun jaba ari balik ku barudak dipoyokan bari di abring-abring “…penjol….penjol….”